Jumat, 19 Juni 2015

TESIS PEMAHAMAN SIMBOL




                                                                           BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Matematika merupakan suatu mata pelajaran yang dinilai memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari karena banyak permasalahan yang membutuhkan penyelesaian dengan matematika. Hal ini didukung oleh pendapat Fathani (2009:75) yang mengemukakan bahwa matematika merupakan salah satu ilmu dasar yang harus dikuasai oleh setiap manusia karena matematika tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Pentingnya matematika juga diakui Tiro (2010:2) yang menyatakan bahwa matematika digunakan sebagai alat untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan nyata dan digunakan sebagai wahana untuk membentuk cara berpikir dan kepribadian peserta didik. Dengan pembelajaran matematika diharapkan peserta didik cermat dalam bekerja, kritis dalam berpikir, konsisten dalam bersikap, dan jujur dalam berbagai situasi. Dari pendapat tersebut diketahui bahwa matematika merupakan kunci untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, matematika sangat perlu diberikan di setiap jenjang pendidikan di sekolah.
1
Salah satu cabang matematika yang terkait dengan permasalahan sehari-hari adalah aljabar. Banyaknya masalah dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dipecahkan dengan konsep aljabar, membuat aljabar penting untuk dipelajari. NCTM (National Council of Teachers of Mathematics) (2000) mengemukakan bahwa “algebraic competence is important in adult life, both on the job and as preparation for postsecondary education.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa aljabar penting untuk kehidupan sehari-hari dan bekal persiapan pendidikan menengah. Pentingnya konsep aljabar tersebut seharusnya membuat materi aljabar menjadi mudah dan disenangi siswa. Namun, sampai saat ini aljabar merupakan pelajaran yang sulit dipahami oleh sebagian besar siswa. Hasil kajian Wardhani (2004:1) terhadap hasil penelitian PPPG (Pusat Pengembangan Penataran Guru) Matematika tahun 2002 menunjukkan bahwa hampir semua propinsi menghadapi masalah rendahnya pemahaman siswa terhadap konsep aljabar dan keterampilan dalam menyelesaikan operasi aljabar. Hal itu dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan masih banyak siswa yang sulit membedakan antara suku sejenis dan tidak sejenis, makna koefisien, sehingga tidak mampu menyelesaikan operasi bentuk aljabar dengan baik. Hasil kajian tersebut menunjukkan bahwa pada umumnya siswa SMP masih mengalami kesulitan dalam memahami fakta, konsep, prinsip dan aturan, dan prosedur dalam pembelajaran aljabar.
Terkait hal tersebut di atas, Leonidou dan Philippou (2007:1) menyatakan bahwa konsep ekuivalensi yang diwakili simbol “sama dengan” merupakan salah satu konsep yang paling penting bagi perkembangan kemampuan aljabar siswa. Kemampuan siswa memahami simbol “sama dengan” sangat berpengaruh terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan persamaan aljabar. Namun, dari hasil penelitiannya, ia menyimpulkan bahwa pemahaman siswa Sekolah Dasar (kelas 3 sampai dengan kelas 6) terhadap tanda “sama dengan” masih sangat kurang. Masalah lainnya juga terdapat dalam temuan Falkner, Levi, dan Carpenter (dalam Samo, 2008) yang meminta 145 siswa kelas 6 di Amerika untuk memecahkan masalah : 8 + 4 = □ + 5. Semua siswa menjawab 12 atau 17 harus diisikan ke dalam kotak. Semua siswa cenderung menjawab dengan menuliskan hasil operasi 8 + 4 atau 8 + 4 + 5.
Selain itu, peneliti sendiri juga pernah menemukan kesalahan tentang penggunaan simbol “sama dengan” pada saat siswa menyelesaikan sebuah operasi penjumlahan.
Misal ada soal:  2 + 6 + 7 + 4 = ……
Siswa menjawab : 2 + 6 + 7 + 4 = 8 + 7 = 15 + 4 = 19
Seharusnya siswa menjawab : 2 + 6 + 7 + 4 = 8 + 7 + 4 = 15 + 4 = 19
Jawaban siswa tersebut mengindikasikan bahwa siswa menafsirkan simbol “sama dengan” sebagai simbol untuk “melakukan operasi” atau simbol sebelum jawaban” padahal simbol “sama dengan” menunjukkan kesamaan dua ekspresi. Hal ini juga didukung oleh pernyatan NCTM (dalam Samo, 2008) yang berbunyistudents tend to misunderstand the equal sign as an operator, that is, a signal for “doing something” rather than a relational symbol of equivalence or quantity sameness”. Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa siswa cenderung tidak paham terhadap simbol sama dengan dan menganggapnya sebagai operator yaitu sebuah sinyal untuk “melakukan sesuatu” daripada sebagai simbol relasi ekivalensi atau kesamaan jumlah.
Ketidakpahaman siswa terhadap simbol “sama dengan” dapat menjadi hambatan utama bagi siswa ketika mereka bergerak dari aritmatika menuju aljabar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cooper dan William (dalam Samo, 2008) yang menyebutkan bahwa kesulitan siswa bergerak dari aritmatika ke aljabar berasal dari masalah yang berkaitan dengan sifat operasi, makna simbol “sama dengan”, operasi, dan makna variabel. Selain itu, NCTM (dalam Samo, 2008) menyatakan pentingnya konsep “sama dengan” dan meyarankan agar lebih banyak penekanan interpretasi “sama dengan” diberikan kepada siswa sebagai dasar belajar aljabar. Oleh karena itu, menumbuhkan pemahaman terhadap simbol “sama dengan” dapat membantu siswa melakukan transisi dari aritmatika ke aljabar. Hal ini mengandung makna bahwa pemahaman terhadap simbol “sama dengan” sangat berpengaruh terhadap kemampuan aljabar siswa.
Terkait kemampuan aljabar, jika ditinjau dari segi gender, didapatkan kenyataan bahwa siswa perempuan memiliki kemampuan aljabar lebih baik daripada siswa laki-laki. Hal tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Walker dan Walkerdine ( dalam Singh, 2012:17) yang menyatakan bahwa perempuan lebih unggul dalam kemampuan aljabar. Selain itu, Arends (2001:123) juga menjelaskan bahwa terdapat perbedaan kemampuan matematika antara laki-laki dan perempuan. Dari pernyataan yang sebelumnya telah diuraikan di atas yaitu pemahaman terhadap simbol “sama dengan” sangat berpengaruh terhadap kemampuan aljabar siswa sedangkan kemampuan aljabar antara laki-laki dan perempuan berbeda maka berdasarkan teori yang ada, dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat perbedaan pemahaman terhadap simbol “sama dengan” antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pemahaman terhadap simbol “sama dengan” ditinjau dari gender. Penelitian ini mengungkap bagaimana pemahaman siswa terhadap simbol “sama dengan” ditinjau dari gender. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar. Alasan peneliti mengambil subjek penelitian siswa kelas V Sekolah Dasar adalah karena siswa kelas V Sekolah Dasar lebih mudah untuk diajak berkomunikasi dibandingkan kelas yang lebih rendah dan mereka sudah mampu mengungkapkan pendapatnya.

B.     Pertanyaan penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, pertanyaan yang muncul dalam penelitian ini yaitu:
1.      Bagaimana pemahaman siswa perempuan Sekolah Dasar terhadap simbol  “sama dengan”?
2.      Bagaimana pemahaman siswa laki-laki Sekolah Dasar terhadap simbol “sama dengan”?

C.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu:
1.      Mendeskripsikan pemahaman siswa perempuan Sekolah Dasar terhadap simbol “sama dengan”.
2.      Mendeskripsikan pemahaman siswa laki-laki Sekolah Dasar terhadap simbol “sama dengan”.

D.    Batasan Istilah
Agar tidak terjadi penafsiran yang berbeda dalam penelitian ini, maka peneliti memberikan batasan istilah sebagai berikut.
1.      Pemahaman adalah kemampuan mengaitkan antara representasi sesuatu dengan jaringan mental yang telah ada dan sesuai.
2.      Simbol “sama dengan” adalah simbol matematika yang digunakan untuk menyatakan kesamaan nilai antara dua ekspresi.
3.      Pemahaman terhadap simbol “sama dengan” adalah kemampuan mengaitkan antara representasi simbol “sama dengan” dengan jaringan mental yang telah ada dan sesuai.
4.      Untuk mengukur pemahaman siswa terhadap simbol “sama dengan” diperlukan suatu indikator.
Indikator pemahaman siswa terhadap simbol “sama dengan” dalam penelitian ini yaitu:
a.       Siswa dapat mengartikan makna simbol “sama dengan” dengan kata-kata sendiri.
b.      Siswa dapat menggunakan simbol “sama dengan” dalam manipulasi aljabar.
c.       Siswa dapat mempresentasikan simbol “sama dengan” dengan tepat dalam menggambarkan suatu masalah.
d.      Siswa dapat mengecek penggunaan simbol “sama dengan” dalam suatu kesamaan.
5.      Gender adalah perbedaan berdasarkan jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan.

E.     Manfaat Penelitian
1.      Sebagai informasi tentang pemahaman siswa kelas V Sekolah Dasar terhadap simbol “sama dengan” agar menjadi bahan pertimbangan guru matematika dalam merancang dan mengelola proses pembelajaran.
2.      Sebagai referensi bagi peneliti lain dalam melakukan penelitian tentang pemahaman siswa terhadap simbol “sama dengan”.

0 komentar: